PART
1
Saat aku
berjalan, aku tahu bahwa mereka tengah memperhatikan ku.
Hanya saja, ketika aku melihat ke arah mereka, mereka langsung memalingkan muka, pura-pura
tidak tahu. Ah, ini konyol sekali. Aku tahu, aku memang sangat cuek, dan dingin, juga pendiam.
Tetapi, apakah aku terlihat menakutkan? Dengan wajah
seimut, selugu, dan secantik ini ? Meskipun juga, sedingin es di kutub utara.
Oh, iya, aku baru sadar,
tatapan mataku yang tajam laksana elang
ini, yang mungkin
saja telah membuat mulut mereka terkunci
rapat. Bahkan hanya untuk sekedar menyapa hai atau hallo pun, mereka tidak
berani.
Oh ya ampun,
sampai kapan aku akan menjomblo ? Kalau mereka saja takut pada ku, apa ada yang
mau dengan ku ? Yang
seperti ini ?
Aku selalu menjalani
hari ku, dengan santai dan
gembira. Meski terkadang seperti membohongi diri sendiri. Karena selalu
bertindak berbeda dengan apa yang aku rasakan. Tetapi mau bagaimana lagi,
meskipun akau sedih, aku masih saja mampu untuk tersenyum dan tertawa, seolah tidak merasakan apa-apa. Itulah aku,
yang tidak pernah mengambil perasaan dan memikirkan nya. Belakangan aku
mendapat gelar The Most Cold Girl. Karena saking cuek dan dinginnya. Ohh,,,, apakah akau seburuk
itu ? Menyebalkan sekali!
Pagi ini aku
berangkat ke sekolah jalan kaki. Hey, bukankah memang seperti itu setiap
harinya ?
Ya, aku selalu jalan kaki ke sekolah, pulang
dan pergi. Aku tidak suka merepotkan siapapun, apa lagi seorang kekasih.
Bukankah aku memang tidak mempunyai seorang kekasih ? Jadi,
kenapa harus khawatir ? Ah, aku hanya berharap saja mempunyai seorang kekasih
yang perfect.
Aku sampai di
pintu gerbang sekolah sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Memang ini
kebiasaanku, selalu datang siang.
Tetapi ini
sangat menyenangkan, saat datang ke sekolah, dengan rasa percaya diri, dan ada
beberapa teman yang kita miliki, dan mereka tidak palsu. Meskipun hanya
sedikit. Sangat bersyukur sekali! Kau tidak hidup sendiri di dunia ini. Karena
pada dasarnya, manusia saling membutuhkan dan tergatung satu sama lain.
Aku tipe orang
yang tidak suka basa-basi, dan simpel. Jadi, saat aku memasuki ruang kelas yang
aku lakukan adalah menaruh tas kemudiaan duduk. Tidak bergosip
sama sekali. Karena tidak tertarik.
Tetapi, entah kenapa pagi ini rasanya berbeda
sekali. Seperti sedang ada berita hangat yang sangat menarik. Hingga rasa penasaran ku mengalahkan
ego dan prinsip ku. Sebuah suara tengah
menceritakan rumor yang tengah beredar dengan sangat bersemangat. Aku pun
mendekati nya, dan mulai menguping seperti beberapa temanku yang lain.
“Hei, apakah kalian tahu ? Mr.X sudah dapat
korban baru lagi” ungkap Windy si ratu gosip.
“Maksudmu korban
? Pembunuhan begitu ? Ya ampun dunia sudah tidak aman ” timpal Sari.
“Buat apa aku
membicarakan seorang pembunuh, hah ? Ini itu tentang The Most Playboy di
sekolah kita. Apa kau belum mendengar beritanya Sar ? ” ucap Windy dengan agak
jengkel.
“Oh… sorry
sorry, kalo itu sih emang baru denger. Kan kamu yang serba tahu begituan Win, bukan aku jadi aku ga salah dong ?” bela Sary santai.
“Hei, kalian
ngeributin apa sih ? Boleh tahu ngga ? ” tanyaku.
“Hei. Kemari,
duduklah. Cold Queen ! Akan aku ceritakan kisah nyata yang sangat mengagumkan
ini untuk mu, ratu ”. Kelakar Windy.
“Kau tahu Win.
Tidak lucu, you know ! ”. Jawab ku dengan nada dingin dan agak sarkasme. Yang
sebenarnya aku pun tertawa di dalam hati, melihat tingkah konyolnya dan tingkah
ku sendiri.
“Hahahah, Cuma
bercanda Ry. Aku tidak bermaksud apa-apa. Begini, denger-denger nih ya, The Most Playboy
kita beberapa hari yang lalu, udah nemu korban baru. Katanya sih dari kelas X. Ya jelas lah, kan secara
gitu yah, anak kelas X kan masih polos-polos tuh kan yah, jadi wajar kena
perangkap Ka Agus. Ops, sorry, aku nyebutin namanya” ujarnya menjelaskan dengan satu tarikan
nafas, yang membuat dia terlihat seperti baru
saja lari marathon.
“Wow, good story
. The best rumor. Ckckck ” kagumku dengan singkat. Lalu berlalu begitu saja
dari tempat mereka bergosip.
“Ry, aku rasa
kamu cocok deh sama Ka Agus. Bayangkan yah,
The Most Cold Girl an The Most Playboy jadi sepasang kekasih. Wow, amazing. Aku
dukung deh 100% hehe.. ”canda nya sambil meledek.
“Maksud mu ?”
seraya menatap nya dingin.
“Eh, ga maksud
apa-apa hehe” jawab Windy takut-takut.
Aku tidak habis
fikir, kenapa Windy sampai mengatakan hal seperti itu pada ku. Entah melihat
dari apa dia itu, sampai-sampai mengatakan bahwa aku dengan Mr.Playboy itu
cocok. Ugh ! Dengan agak jengkel, aku pergi ke toilet. Rasa mual itu mulai ku
rasakan. Entah kenapa kalau pagi hari, aku selalu mual, dan tidak jarang
tiba-tiba mengeluarkan bunyi ueekkk di
depan teman-teman lalu setelahnya wajahku pucat pasi, tetapi masih saja
tersenyum kecut kearah mereka yang melihat ku dengan heran. Oh tenang man, aku
tidak hamil kok. Sungguh deh!
Aku selalu
berfikir, apakah umurku tidak panjang ? Jika aku mulai merasakan beberapa
tubuhku terasa sakit mendadak. Rasanya
aku selalu berfikir tentang kematian, bahwa itu sangat dekat dengan ku. Tetapi ,
memang begitu kan ? Kematian itu hanya satu langkah di depan kita. Namun,
karena kesadaran akan itu aku jadi mempunyai tujuan dalam hidupku, aku jadi
tahu apa yang harus aku lakukan ke depan nya dalam hidupku. Aku jadi berusaha
dengan sekuat dan semampuku untuk sukses di usia muda. Membanggkan orang tua
ku, dan membuat bangga mereka dengan sukses nya hidupku, di usia muda.
Saat aku akan
kembali kedalam kelas, bel masuk tepat berbunyi. Dan tidak sengaja aku melihat
Ka Agus sedang berjalan di koridor kelasku, menuju kelasnya di bangunan belakang.
Melihatnya, aku jadi teringat dengan cerita tentang dia tadi pagi. Aku
benar-benar tidak mengerti, kenapa laki-laki seperti dia yang tampan, dan kalau ngomong tidak pakai perasaan, tetapi suka tebar pesona,
dan memberi harapan
palsu ke tiap gadis yang cantik menurut kategorinya. Benar-benar di laur nalar
ku.
Mungkin
seseorang akan merubahnya nanti. Ah, apa perduliku. Jangan sampai aku termakan omongan ngelanturnya Windy
deh, bahaya itu.
Setiap
hari aku terbiasa sendiri, aku bukannya tidak mempunyai seorang teman pun di
dunia ini. Hanya saja aku lebih nyaman melakukan setiap apa yang aku lakukan
sendiri.
Seperti
sekarang, aku tidak tahu Mela dan Sari teman dekatku itu pergi kemana, jadi aku
berjalan sendiri ke kantin. Setelah meliarkan mata ke segala penjuru kantin,
akhirnya aku menemukan tempat yang masih kosong untuk ku duduki.
Saat
aku baru saja mendaratkan pantatku di bangku kantin, tiba-tiba The Most Playboy datang menghampiri. Kalau di
lihat dari raut wajahnya, dia seperti mau menyapa, atau mengatakan sesuatu.
Maklumlah, aku juga sedikit banyak
mengenal dia, pernah ngobrol juga dengan nya. Dia juga salah satu anggota Dewan
di sekolahku. Difikir-fikir, dia memang manis juga sih. Ish.. apaan sih. Kok
aku jadi mikirin dia sih.